Senin, 12 Maret 2012

IKAN GUPPY

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang          Ikan hias cukup dikenal oleh masyarakat sebagai hiasan aquarium. Perkembangan ikan hias di Indonesia mengalami kemajuan yang terus meningkat, terutama ikan hias air tawar asli Indonesia (Tarwiyah, 2001). Negara kita memiliki prospek yang baik dibidang ikan hias serta mempunyai banyak  keuntungan karena banyak jenis-jenis ikan hias yang terdapat di Indonesia tidak terdapat di negara lain atau sering disebut sebagai spesies endemik. Hal ini sesuai dengan pendapat  Muchlis, 2008 bahwa, potensi lahan yang tersedia untuk ikan hias sekitar 219.00 ha, keragaman jenis ikan hiasnya tinggi ± 250 sp, dan prospek pemasarannya mempunyai daya saing yang tinggi serta keunggulan kompetitif di pasar dunia maupun lokal.
Salah satu jenis ikan hias yang banyak diminati adalah ikan guppy. Daya tarik guppy terletak pada ukurannya yang mungil dan warnanya yang indah. Di habitat aslinya, ikan ini tumbuh dan berkembang di perairan air tawar dan beberapa di antaranya juga ada yang hidup di perairan air payau (Ruly, 2008).
Ikan guppy terdiri dari beberapa jenis yang merupakan hasil dari perkawinan silang yang menyebabkan mutasi gen. Selain warna, bentuk dasar ekor ikan guppy juga bervariasi. Guppy dibagi berdasarkan bentuk ekornya yaitu wide tail (ekor lebar), sword tail (ekor panjang), dan short tail (ekor pendek). Tiap varietas mempunyai 4 macam bentuk ekor, varietas terbaru yaitu Ribbon/Swallow (Suara merdeka, 2008). Maka dari itu sebagai orang yang bergerak dibidang budiddaya kita perlu mengetahui prospek dan cara-cara untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas ikan hias yang ada di Indonesia.
1.2 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari kegiatan praktek lapang ini adalah untuk membandingkan jenis ikan yang diperdagangkan, harga ikan serta penanganan yang biasa dilakukan oleh para pedagang dari ketiga lokasi praktek yang berbeda
            Kegunaan dari praktek lapang ini adalah mahasiswa mamperoleh pengetahuan tambahan tentang prospek dan kendala dalam usaha perdagangan ikan hias.



BAB II
METODOLOGI
II. 1 Waktu dan Tempat
            Kegiatan praktek lapang ini dilakukan tiga kali, pertama pada hari Minggu tanggal 16 November pukul 10.00 di daerah Cendrawasih, kedua hari Minggu tanggal 23 November pukul 08.00 di daerah perintis kemerdekaan samping Carefour, dan yang terakhir hari Minggu tanggal 23 November pukul 09.30 di pasar hobi.
II. 2 Prosedur Kerja
            Adapun prosedur kerja pada
1.    Menentukan lokasi.
2.    Menyiapkan alat tulis dan koisener.
3.    Melakukan observasi.
4.    Melakukan wawancara pada penjual ikan hias di lokasi praktek.
5.    Pengumpulan data.
6.    Pembuatan laporan praktikum.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
III. 1 Hasil
            Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan tiga orang penjual ikan pada lokasi praktek, diperoleh hasil sebagai berikut:
Lokasi pertama (Cendrawasi, 16 November 2008)
Nama Pemilik                                 :  Ismail Takin
Awal berdirinya usaha                    :  1989
Modal awal                                     :  Modal ikan Rp 1.000.000
Penentuan Lokasi                           :  Ditentukan oleh pemerintah
Jenis Ikan Yang Diperdagangkan  : Koi, Koki, Tokke, Sumatra, Louhan, Komet, Patin, Arwana,  Guppy, Platy, Oscar, Pangasius, Kura-kura, Zebra, Serfi, Dalmation, Redfin (albino dan hitam), Buanos, Lemon sil, Sinodentis, Black ghost, Palmas, Manfish, Cuppang.
Asal Ikan Yang Diperdagangkan      :  90% Surabaya dan 10% Makassar.
Harga ikan dari supplier                  :  Rp 800/ ekor
Harga dagang ikan                         :  Rp 1000/ ekor
Sarana pemeliharaan ikan              :  Akuarium, aerator, pompa, lampu
Jenis pakan                                   :  pelet (Takari), cacing beku, jangkrik
Hama dan penyakit                        :  White spot dan Harpes
Pengendalian hama & penyakit : Pemberian garam tak beryodium dicampur dengan daun ketapang dan direndam  ± satu minggu. Obat yang digunakan adalah Blitz
Jumlah tenaga kerja                      : Dua orang.
Pengangkutan                              : Lewat pesawat menggunakan stirifoam.
Ikan andalan                                 : Arwana dengan harga Rp 1.300.000
Lokasi kedua (Carefour, 23 November 2008)
Nama Pemilik                                  : hoo
Awal berdirinya usaha                     :
Modal awal                                      :
Penentuan Lokasi                            :  Ditentukan sendiri
Jenis Ikan Yang Diperdagangkan   : Koi, Koki, Tokke, Sumatra, Louhan, Komet, Patin, Arwana, Guppy, Manfish dan platy
Asal Ikan Yang Diperdagangkan       :  Surabaya
Harga ikan dari supplier                   :  Rp 1000/ ekor
Harga dagang ikan                          :  Rp 3000/ ekor
Sarana pemeliharaan ikan               :  Akuarium, aerator, pompa, lampu
Jenis pakan                                    :  pelet, cacing beku,
Hama dan penyakit                         :  Jamur, kutu air
Pengendalian hama & penyakit        : Pemberian garam tak beryodium dan      obat biru
Jumlah tenaga kerja                        : Tiga orang
Pengangkutan                                : Lewat pesawat menggunakan stirifoam.
Ikan andalan                                  : Koi dengan harga lebih dari Rp 500.000





Lokasi ketiga (Pasar hobi,  23 November 2008)
Nama Pemilik                                  : sau’
Awal berdirinya usaha                     :  2005
Modal awal                                     : Rp 15.000.000 – Rp 20.000.000
Penentuan Lokasi                           :  Ditentukan pemerintah
Jenis Ikan Yang Diperdagangkan  : Koi, Koki, Tokke, Sumatra, Louhan, Komet, Patin, Arwana, Guppy, Platy,
Asal Ikan Yang Diperdagangkan      :  Sulawesi selatan dan Jawa
Harga ikan dari supplier                  :  Rp 1000/ ekor
Harga dagang ikan                         :   2 – 3 kali lipat dari harga suplier
Sarana pemeliharaan ikan               :  Akuarium, aerator, pompa, lampu
Jenis pakan                                   :  pelet, cacing beku,
Hama dan penyakit                         :  Jamur, kutu air, dan borok
Pengendalian hama & penyakit       :  Pemberian garam tak beryodium, Blitz, dan  Germ free
Jumlah tenaga kerja                        :  Dua orang.
Pengangkutan                                :  Lewat pesawat menggunakan stirifoam.
Ikan andalan                                  :  Koi dan Arwana.




III.2  Pembahasan
Dari data yang telah diproleh dapat dilihat bahwa terdapat banyak kesama dalam usaha pemeliharaan dan penjualan ikan hias. Hal ini dapat dilihat dari asal ikan yang diperdagangkan, harga ikan, sarana pemeliharaan, dan pakannya diberikan semuanya sama. Selain itu untuk hama dan penyakit serta penanggulangannya juga sama dimana, parasit atau penyakit yang menyerang berupa Kutu air (Argulus sp), dan jamur. Penyakit tersebut dapat ditanggulangi dengan menggunakan garam yang tidak mengandung yodium. Hal ini sesuai dengan pendapat suara merdeka, 2008 bahwa, penyakit yang umum menimpa ikan hias  adalah jamur.
Penentuan lokasi di ketiga tempat tersebut tidak lepas dari peran pemerintah, suplai ikan dari ketiga tempat tersebut hampir sama, yaitu berasal dari pulau Jawa khususnya surabaya hal ini terjadi karena para petani ikan hias di Makassar belum dapat menyediakan ikan hias yang berkualitas tinggi dan layak untuk diperdagangkan.
 Kurangnya usaha pembenihan ikan hias di Makassar  cenderung disebabkan karena minimnya tenaga ahli dan pengetahuan dibidang pembenihan ikan hias Hal ini sesuai dengan pendapat Muchlis, 2008 bahwa, masalah-masalah dalam potensi dan prospek pengembangan ikan hias adalah pengetahuan dan keterampilan masyarakat petani ikan masih rendah, teknologi produksi benih ikan hias masih tradisional, dan terbatasnya modal usaha.

A. Klasifikasi




Kerajaan:


Filum      :


Kelas      :


Ordo       :


Famili     :


Genus     :


Spesies   :

P. reticulata (Wikipedia,2008)


B. Habitat
            Guppy awalnya hidup di rawa air payau tapi cenderung hidup di air tawar. Hal ini sesuai dengan pendapat Ruly, 2008 bahwa, di habitat aslinya ikan ini tumbuh dan berkembang di perairan air tawar dan beberapa di antaranya juga ada yang hidup di perairan air payau. Di awal penyebarannya di Singapura, guppy digunakan untuk mengontrol populasi nyamuk di rawa hutan bakau. Pada perkembangannya, guppy liar terns berkembang biak di tempat umum seperti saluran air, got, sungai, dan kanal.

C. Kebiasaan makan
            Guppy termasuk dalam golongan ikan herbivor. Hal ini sesuai dengan pendapat Ruly 2008 bahwa Makanan utamanya adalah plankton dan bahan organik. Ada juga sebagian guppy yang memakan dedaunan (herbivore). ikan guppy yang dipelihara di dalam akuarium dapat diberikan makanan buatan berupa pellet yang ukurannya disesuaikan dengan bukaan mulut ikan guppy tersebut, dengan frekwensi pemberian pakan 2 kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari. Hal ini sesuai dengan pendapat Tarwiyah, 2001 bahwa, pemberian makanan sebaiknya 2 kali sehari, hendaknya jangan berlebihan, karena dapat menyebabkan pembusukan yang dapat meerusak kualitas air (Tarwiyah, 2001).
D. Reproduksi
Ikan ini berkembang biak dengan cara beranak sehingga pemijahannya tergolong mudah. Induk jantan mempunyai warna yang cerah, tubuh yang ramping, sirip punggung yang lebih panjang, mempunyai gondopodium (berupa tonjolan memanjang di belakang sirip perut) yang merupakan modifikasi sirip anal berupa sirip panjang. Untuk indukan betina mempunyai tubuh gemuk, warna yang kurang cerah, sirip punggung kecil, sirip perut berupa sirip yang halus. Selain warna, bentuk dasar ekor ikan guppy juga bervariasi (suara merdeka, 2008).
Guppy dibagi berdasarkan bentuk ekornya yaitu wide tail (ekor lebar), sword tail (ekor panjang), dan short tail (ekor pendek). Anak guppy yang baru lahir sudah langsung dapat berenang dengan baik. Hal ini terjadi karena proses pembuahan guppy secara internal yaitu perkawinan terjadi pada saat organ gondopodium yang terletak pada sirip anal dimasukkan ke dalam organ telur betina. Guppy jantan yang akan mengejar betina siap kawin. Setiap kali perkawinan dapat dijadikan 3 kali kelahiran. Waktu kelahiran berkisar 3 minggu dan seekor betina dapat menghasilkan 60 ekor burayak (suara merdeka, 2008).
E. Pemijahan
            Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan pemijahan ikan guppy adalah:
Pemilihan induk
a. Ciri-ciri induk jantan dan betina
1) Induk Jantan
·         Mempunyai gonopodium (berupa tonjolan dibelakang sirip perut) yang  merupakan modifikasi sirip anal yang berupa menjadi sirip yang panjang.
·         Tubuhnya ramping.
·         Warnanya lebih cerah.
·         Sirip punggung lebih panjang.
·         Kepalanya besar.
2) Induk Betina
·         Dibelakang sirip perut tidak ada gonopodium, tetapi berupa sirip halus.
·         Tubuhnya gemuk
·         Warnanya kurang cerah.
·         Sirip punggung biasa.
·         Kepalanya agak runcing.
b. hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan
·         Air yang diperlukan adalah ari yang cukup mengandung Oksigen (O2) dan jernih.
·         Suhu air berkisar antara 15 - 270C.
·         pH yang disukai agak sedikit alkalis, yaitu berkisar 7 - 8.
·         Makanan yang diberikan dapat berupa makanan alami (cuk, cacing, kutu air) dan makanan buatan, diberikan secukupnya.
c. Teknik pemijahan
·         Pemilihan induk. Pilihlah induk yang berukuran relatif besar, bentuk tubuh  yang mengembung serta mempunyai warna yang indah.
·         Induk-induk yang telah dipilih dimasukkan dalam satu bak untuk beberapa  pasang induk. Namun apabila menghendaki keturunan tertentu dapat pula dilakukan dengan cara memisahkan dalam bak tersendiri sepasang-sepasang.
·         Bak-bak pemijahan harus dikontrol setiap hari. Setelah lahir, anak-anak ikan harus cepat-cepat diambil dan dipisahkan dari induknya agar tidak dimakan oleh induknya (Tarwiyah, 2001)
F. Pemeliharaan larva
·         Anak-anak ikan yang baru lahir belum membutuhkan makanan, karena masih mengandung kuning telur (yolk egg). Setelah 4 - 5 hari anak ikan baru dapat diberi makanan berupa kutu air yang sudah disaring, atau kuning telur yang telah direbus dan dihancurkan.
·         Setelah mencapai ukuran medium (2 - 3 cm) dapat diberikan makanan cacing, kemudian setelah mencapai ukuran dewasa (5 - 7 cm) dapat diberi makanan cuk.
·         Disamping makanan alami dapat pula diberi makanan tambahan berupa cacing kering, agar-agar dll.
·         Pemberian makanan sebaiknya 2 kali sehari, hendaknya jangan berlebihan, karena dapat menyebabkan pembusukan yang dapat merusak kualitas air.
·         Pergantian air. Air dalam bak atau aquarium jangan sampai kotor/keruh,  karena dapat menyebabkan kematian anak ikan. Kotoran dapat dibersihkan  setiap 2 - 3 hari sekali dengan cara disiphon, air yang terbuang pada waktu  penyiphonan sebanyak 10 sampai 20% dapat diganti dengan air yang baru (Tarwiyah, 2001).

G. Pembesaran
            Untuk pembesaran dapat dilakukan di aquarium ukuran 100 x 35 x 50 cm dan dapat diisi anak Guppy yang baru menetas 8-10 hari sebanyak 200 - 250 ekor. Air yang digunakan sebaiknya air yang telah diendapkan selama sehari semalam. Kualitas air selama pembesaran harus diperhatikan seperti halnya pada saat pemijahan. Pada aquarium pembesaran diberikan perlengkapan aerator dan tempat persembunyian. Dari usaha pembesaran, Guppy biasanya dipanen saat mencapai 5-7 cm (Tarwiyah, 2001).

H. pakan
Anak-anak ikan yang baru lahir belum membutuhkan makanan, karena masih mengandung kuning telur (yolk egg). Setelah 4 - 5 hari anak ikan baru dapat diberi makanan berupa kutu air yang sudah disaring, atau kuning telur yang telah direbus dan dihancurkan. Setelah mencapai ukuran medium (2 - 3 cm) dapat diberikan makanan cacing, kemudian setelah mencapai ukuran dewasa (5 - 7 cm) dapat diberi makanan cuk. Disamping makanan alami dapat pula diberi makanan tambahan berupa cacing kering, agar-agar dll. Pemberian makanan sebaiknya 2 kali sehari, hendaknya jangan berlebihan, karena dapat menyebabkan pembusukan yang dapat meerusak kualitas air (Tarwiyah, 2001).
I. Penanganan hama dan penyakit
            Penyakit yang umum menimpa guppy adalah jamur. Perlu dipahami jamur tumbuh dengan cara yang berbeda dari bakteri. Jamur tumbuh dengan spora dan selalu tumbuh dengan kondisi tertentu. Mereka berkembang mempunyai siklus tertentu berupa spora kemudian berubah menjadi organisme yang disebut miselium. Jamur ini dapat berkembang biak sangat cepat, berbentuk seperti benang/ulir dan membentuk jaringan-jaringan seperti lapisan yang tipis. Sedangkan bakteri yang biasa menyerang guppy adalah mycobacterium piscium, juga beberapa penyebab lainnya.
Perlu diperhatikan untuk melakukan pengobatan secara efektif harus melakukan diagnosa yang akurat, sehingga dapat mengatasi penyakit yang timbul. Penyakit yang umum menyerang ikan guppy adalah
a. Saprolegnia.
Ciri-ciri ikan yang terserang adalah bercak-bercak putih pada kulit ikan. Perawatannya teteskan alkohol metapen dalam  tempat sebanyak 2 tetes dalam satu galon air/4 1,12) liter air. Langkah selanjutnya berikan garam dan biarkan beberapa saat. Berikan hydrogen peroksida untuk membunuh bakteri yang melekat pada jaring ikan selama 15 sampai 30 detik. Atau bisa juga digunakan malachite green atau methyline blue atau acriflavin sebagai disinfektan. Cara perawatan ikan yang terkena infeksi bakteri sebaiknya diberi tambahan ruang sebelum mengobati.
b. Penyakit Bengkak atau Bloa
Ikan tampak gelisah, badan tampak lebih besar karena kembung. Ini disebabkan karena peradangan usus ikan. Isolasi ikan yang terkena, lalu masukkan ke dalam satu galon air yang telah dibubuhi 2 sendok penuh garam Inggris. Biarkan selama 4 atau 6 jam, kemudian tambahkan air selama 12 jam. Setelah sembuh dapat dikembalikan ke tempat asal.
c. Jamur Mulut
Ciri ikan yang terkena jamur mulut mudah dilihat dari warna putih yang terletak di depan mulutnya. Jamur putih tersebut  merupakan koloni sangat besar yang menempel pada mulut ikan, sehingga menutup mulut ikan sampai tidak bisa bernapas dan makan dapat menyebabkan ikan mati. Pengobatan menggunakan aureomycin 25 mg untuk 1 galon air tambahkan 1 tetes obat merah dan metopen 2 tetes.
d. Penyakit Insang
Ciri ikan yang terkena peradangan insang biasanya disebabkan oleh organisme virus. Ciri pada penyakit ini insang membuka, malas makan dan selalu di atas permukaan air. Penyakit ini disebabkan oleh beberapa bakteri dan jamur dan paling sulit untuk diatasi.
Ciri ikan ini jika mati insangnya tampak memerah dan membusuk lebih cepat dari badannya. Beberapa cara yang sudah berhasil dilakukan adalah dengan memberikan metapen mercurochrome direndam beberapa saat secara bersamaan kemudian lakukan perawatan dengan menggunakan air garam dan memberikan tempat yang lebih besar dan luas.
e. Penyakit Kembung
Ciri-ciri ikan yang terkena peradangan perut antara lain ikan tampak sulit berenang ke dasar. Cara mengatasinya berikan 1 sendok teh garam Inggris tiap 1/2 liter air, dan rendam ikan selama 3 sampai 4 jam, kemudian pindahkan ikan ke dalam tempat yang ketinggian airnya 3 kali tinggi badan ikan. Masih ada beberapa penyakit yang sudah umum diketahui, misalnya kutu atau jarum.



J. Panen
Panen merupakan kegiatan yang dilakukan setelah masa pemeliharaan ikan selesai dan ikan mencapai ukuran pasar. Pada saat panen dilakukan penghitungan jumlah hasil panen dan grading ukuran. Pada waktu panen, air media pemeliharaan ikan dikurangi sampai separuhnya. Ini dilakukan untuk mempermudah pengambilan ikan. Sediakan terlebih dulu baskom berisi air tandon untuk menampung ikan, lalu ambil ikan perlahan dengan serok dan pindahkan ke baskom tadi. Sambil menyerok ikan hitung jumlah ikan yang diperoleh sehingga total hasil panen dapat diketahui jumlahnya. Usahakan selama ikan dipindahkan tidak terlalu lama diluar air (Depdiknas, 2003).
H. pengepakan
            Untuk memudahkan pengangkutan ikan dilakukan pengepakan dengan menggunakan kantung plastik berwarna bening. Kantung plastik yang digunakan berukuran 40x60 cm sejumlah 2 lembar dilapiskan untuk meningkatkan ketahanan terhadap benda tajam dan mencegah kebocoran. Satu ujung kantung plastik diikat dengan karet, sedang ujung satunya diikat setelah air, ikan dan oksigen dimasukkan. Setelah berisi ikan, kantung plastik tadi diberi oksigen dari tabung oksigen. Rasio air dan oksigen adalah 1 : 2. Setelah diisi oksigen ikat kantung plastik dengan karet (Depdiknas,2003).



I. Pengangkutan
            Pengangkutan ikan bertujuan untuk memindahkan ikan dari suatu
tempat ke tempat lain. Jarak yang ditempuh mempengaruhi jenis alat angkut yang digunakan. Untuk mengurangi goncangan selama pengangkutan, kantung ikan disusun rapat satu sama lain. Untuk mengurangi peningkatan suhu, letakkan beberapa batu es di antara susunan kantung ikan. Perjalanan yang lama memerlukan transit untuk mengganti air kantung ikan dan menambah oksigen (Depdiknas,2003).

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
IV.1 Kesimpulan
            Berdasarkan survei dan wawancara yang telah dilakukan di tiga lokasi praktek dapat ditarik kesimpulan:
1.    Harga ikan dari ketiga lokasi praktek tidak berbedah jauh, para pedagang hanya mengambil keuntungan 2 – 3 kali lipat dari harga suplier.
2.    Kendala yang biasa ditemukan adalah serangan penyakit dan jamur dan ditanggulangi dengan menggunakan garam tanpa yodium.
3.    Hampir sebagian besar lokasi usaha ditentukan oleh pemerintah.
IV.2 Saran
            Saran saya sebaiknya untuk kegiatan praktek berikutnya lokasi budidaya ikan hias dapat dijadikan salah satu lokasi praktek agar para praktikan tidak hanya dapat mengetahui peluang usaha ikan hias tetapi juga dapat melihat kegiatan budidayanya secara langsung.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2003. Modul Pemanenan dan Pengangkutan Ikan Hias. Direktorat pendidikan menengah kejuruan, Direktorat jenderal pendidikan dasar dan menengah, Departemen pendidikan nasional


Anonim, 2007. Guppy. Diakses dari Wikipedia.com.htm Pada tanggal 09 Desember 2008.


Anonim, 2008. Kuliah Kultur Ikan Hias. Universitas Hasanuddin. Makassar

Ruly, 2008. Ikan Guppy. Diakses dari Asyik nge-net.co.htm Pada tanggal 09 Desember 2008.


Suara Mardeka, 2008. Budidaya Ikan Guppy. Diakses dari Suara Merdeca.com.htm  Pada tanggal 09 Desember 2008.


Tarwiyah, 2001. Budidaya Ikan Hias Live Bearer. Diakses dari http://www.ristek.go.id dinas perikanan DKI Jakarta Pada tanggal 09 Desember 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar